Minggu, 16 November 2014

Revolusi dan Aksi

Kalian, burung di udara, terbang ke rumah kami, sampaikan pada adik, ibu, dan perawan berkulit putih bahwa kami semua gugur dalam ghazavat. Katakan pada mereka, tubuh kami tidak akan tergeletak di dalam kuburan, tetapi serigala yang kelaparan akan memakan dan mengunyah tulang kami, dan burung gagak hitam akan mematuki mata kami. (Lagu bangsa Chechnya)

Tersebutlah Haji Murad, pejuang bangsa Chechnya yang di elu-elukan sepanjang masa. Leo Tolstoy, sastrawan Rusia mengabadikannya dalam sebuah novel. Semasa penugasan Tolstoy di Perang Kaukasus, dia mendengar kesohoran Murad dan mencari kisah-kisah tentangnya.  Bahkan Tolstoy yang seorang anarkis Kristen pun tergugah menuliskan pejuang muslim yang terkenal gigih ini. Haji Murad dipandang sebagai pahlawan yang memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan bangsa Chechnya.

Haji Murad sempat membelot ke Rusia, namun hal itu dikarenakan Shamil, pemimpin Chechnya, menahan keluarga dan mengancam Murad. Dalam beberapa adegan di novel, sang pahlawan bahkan di bangga-banggakan oleh lawannya sendiri. Namun hal itu tidak menghapus kesucian nama Hadji Murad, maka dibangunlah monumen atas namanya di kota Shaki Zhaqatal, Rusia.

Lain lagi dengan pahlawan yang kebesarannya tak di ragukan di dunia Islam, seperti  Husain bin Ali. Pahlawan yang dikenang karena memperjuangkan agamanya melawan Yazid bin Muawiyah. Husain, cucu Nabi Muhammad, memberontak karena merasa bahwa agamanya tidak lagi dijalankan semestinya. Dalam kehausan ia berperang melawan pasukan dari Kota Kufah dan syahid di tanah Karbala disaksikan keluarganya. Hingga kini, kematiannya selalu diperingati sebagai hari berduka setiap tahunnya, tepat tanggal 10 Muharram atau 2 November 2014 lalu.

Di Indonesia pun banyak pahlawan tak kalah gigihnya memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Sebut saja Pangeran Diponegoro, raja Mataram di Jogjakarta, berperang melawan Belanda sekita tahun 1800-an. Beliau sempat di asingkan di Benteng Rotterdam Makassar hingga akhir hayat. Sosoknya diabadikan di mata uang kertas Indonesia dan naskah klasik tentang hidupnya di beri penghargaan sebagai Warisan Ingatan Dunia.

Ada pula Sultan Hasanuddin, Raja Gowa ke-16, yang melawan kolonial Belanda ( VOC) sejak tahun 1660. Belanda kemudian menang dan menguasai Benteng Somba Opu, pertahanan terakhir kerajaan Gowa. Hingga akhirnya Sultan Hasanuddin wafat pada tanggal 12 Juni 1670.
***

Mao Ze Dong, seorang filsuf dan pahlawan pendiri negara Tiongkok, sempat berkata,”kalian datang mengambil pelajaran pada kami, padahal revolusi Husain yang memiliki pelajaran penuh nilai ada pada kalian”. Revolusi muncul karena perlawanan terhadapan kemapanan. Setiap revolusi akan akan selalu muncul sosok pahlawan dan seharusnya kita juga mampu memetik pelajaran yang berbeda-beda di tiap sosok. Katakanlah Revolusi Bolshevik di Rusia yang kemudian di pelajari dan diaplikasikan kembali di Perang Saudara Tiongkok.

Dalam konteks kekinian, pahlawan bukan lagi tentang pemimpin yang berperang secara fisik melawan penjajah bangsa. Memasuki zaman dengan tantangan yang semakin kompleks,  masyarakat Indonesia membutuhkan pahlawan yang berjuang melawan teror-teror seperti teror korupsi, teror politik kotor, mafia migas dan masalah kebangsaan lainnya. Dekadensi moral membuat lunturnya semangat kepahlawanan bangsa. Akan ada orang-orang yang tidak tinggal diam melihat bibit-bibit pahlawan di Indonesia. Contohnya Munir yang tewas di pesawat karena aksi HAM-nya yang di anggap mengganggu stabilitas pemerintahan. Setelah 10 tahun, barulah Hendropriyono, mantan kepala BIN, mengakui keterlibatannya dalam pembunuhan Munir pada bulan Oktober lalu. Lalu ada Wiji Tukul yang aktif menyuarakan protesnya terhadap ketidakadilan pemerintah masih berstatus hilang sejak tahun 1998.

Semangat kepahlawanan mesti terus dinafaskan untuk kemajuan bangsa. Selalu ada cara untuk menyuarakan kepahlawanan. Tidak mesti harus mendapatkan gelar pahlawan nasional atau tanda kehormatan dan tidak harus mengorbankan nyawa. Namun belajar dari semangat kepahlawanan terdahulu yang wajib ada. Bisa jadi turunnya kualitas kepahlawanan karena orang-orang masa kini haus publikasi, merasa bahwa seharusnya ada media yang mencaploknya sebagai pahlawan. Persepsi mengenai kepahlawanan perlu dikaji lebih baik.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran atau pejuang yang gagah berani.  Mari kita tengok tentang orang-orang yang mengorbankan hidupnya demi orang lain. Seperti misalnya Gerakan Berbagi Nasi yang bertujuan mulia mengembangkan semangat berbagi melalui sebungkus nasi di Indonesia. Gerakan ini sudah menyebar ke seluruh pelosok Indonesia, termasuk di Makassar. Lain lagi dengan teman-teman pemerhati kampung Savana, Makassar. Mereka melakukan pendampingan warga namun fokus pada gerakan edukasi, seperti mengajar anak-anak di kampung itu. Ada juga pendampingan warga di Pandang Raya, yang tanahnya di rebut oleh penguasa semena-mena. Komunitas Street Child Makassar juga hadir dalam membantu permasalahan edukasi bagi anak-anak kecil di jalanan. Semoga gerakan-gerakan sosial seperti ini tidak akan mati di bunuh peradaban yang katanya “maju”.

Aksi pahlawan pun tidak mesti dilakukan banyak orang. Bahkan hal-hal kecil sekadar menebarkan info kebaikan pun bisa dibilang pahlawan, bercermin pada definisi pahlawan di atas. Seperti kata Maya Angelou,”I think a hero is any person really intent on making this a better place for all people.”

Mari memaknai hari pahlawan dengan refleksi diri sendiri. Pada dasarnya seseorang bertindak sebagai pahlawan itu berasaskan cinta. Cinta hadir dalam setiap diri manusia. Setiap orang memiliki potensi kepahlawanan, tinggal bagaimana kita mengaktualisasikannya. Apa aksimu hari ini?


Pernah di muat di Koran Tempo Edisi Jumat, 21 November 2014 kolom Literasi

Share This Article


Tidak ada komentar: