Kamis, 13 November 2014

MAJU KENA MUNDUR KENA

Pernahkah kau mendengar cerita tentang sepasang suami istri yang membawa keledainya untuk dijual? Selama perjalanan mereka bertemu dengan beberapa orang yang mencemooh mereka. Pertama, sang istri naik di keledai dan suami berjalan kaki disampingnya.
Beberapa orang tiba-tiba menimpali bahwa betapa kejam sang istri membiarkan suaminya berjalan kaki. Kemudian mereka akhirnya berganti posisi, kali ini istrinya yang berjalan kaki. Ketika mereka bertemu dengan sekelompok orang,lagi-lagi mereka dicibir bahwa sungguh kejam sang suami membiarkan sang istri berjalan kaki.
Mereka berdua pun menaiki keledai tersebut, mereka sangat heran karena orang-orang yang mereka lewati berkata mereka berdua terlalu kejam pada sang keledai. Akhirnya mereka sepakat, keduanya cukup berjalan kaki sampai di tujuan. Tapi, tetap saja orang-orang malah menyebut mereka bodoh karena tidak menaiki keledai tersebut.
***
Seumpama paradoks “maju kena, mundur kena”, judul film trio komedian Dono, Kasino dan Indro itu, hal ini juga terlihat di wajah politik Indonesia. Berbagai cobaan yang menyerbu bangsa telah membuat sebagian rakyat Indonesia merasa kehilangan harapan.
Apalagi mengenai birokrasi Indonesia yang cukup timpang. Pesimisme merajalela di mana-mana. Pesimisme kemudian menghantarkan pada opini publik yang buruk. Edward M. menjelaskan bahwa opini publik tidak selalu logis, tidak berbentuk, ambivalen, kontradiktif dan mudah berubah.
Hal ini mengakibatkan munculnya persepsi kolektif dan diusahakan “masuk akal” terhadap isu-isu yang berkembang. Inilah yang dimaksud paradoks tadi. Seperti cerita di atas, ketika ada kebijakan pemerintah yang keluar, selalu ada pro dan kontra yang ikut muncul menghantui bahkan hampir selalu dianggap kesalahan.
Menurut Jalaluddin Rakhmat, persepsi adalah pengamatan tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Jadi wajar bila persepsi mengenai kesalahan kebijakan seringkali muncul karena akibat-akibat yang ditimbulkan tersampai buruk di mata masyarakat. Misalnya tentang korupsi, mafia migas, impor bahan pangan dan sistem politik yang tidak berjalan semestinya telah mapan selama puluhan tahun di wajah birokrasi Indonesia.
Character is like a tree and reputation like a shadow. The shadow is what we think of it, the tree is the real thing.  –Abraham Lincoln
Sebagai individu yang peduli terhadap kemajuan bangsa tentu kita harus tetap mengawal kebijakan-kebijakanpemerintah. Sayangnya, masyarakat kadang hanya melihat sisi negatif dengan nada pesimistis dalam kehidupan pribadi mereka tanpa memikirkan dampak jangka panjang keputusan tersebut.
Agak subjektif memang, namun ini didasari oleh aroma apatis dan pesimisme masyarakat mengenai birokrasi Indonesia selama beberapa tahun silam. Tentu saja karakter pesimis masyarakat itu tak terlepas dari peran media massa.
Mari kita menengok ke Jokowi yang baru-baru dilantik. Sebelum dilantik, isu kebijakan Jokowi telah banyak ditimpuk fitnah. Misalnya saja, isu-isu tak jelas mengenai pemberian fasilitas mobil mewah bermerek Mercedes Benz untuk para menteri di kabinetnya.
Tentang Jokowi yang tidak punya visi dan misi yang jelas untuk pengembangan negara atau tentang kebijakan Jokowi yang “disetir” oleh Megawati Soekarnoputri. Baru-baru ini pun Fadly Zon, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, mengkritik Jokowi mengenai campur tangan KPK dalam menetapkan nama-nama menteri di kabinet.
Ini merupakan bentuk pesimisme yang meradang di jantung Indonesia. Tidak dipungkiri bahwa oposan Jokowi-JK tidak akan tinggal diam, apalagi mengenai keputusan Jokowi yang tidak melibatkan eksekutif parpol dalam pemilihan kabinet. Sebelum menghakimi sebuah keputusan pemimpin, kita harus mampu menelaah dengan baik alasan-alasan mengapa diambilnya keputusan tersebut apalagi bila keputusan tersebut belum final.
Mari terus membangkitkan optimisme untuk kemajuan Indonesia. Ada wajah-wajah baru dalam perpolitikan Indonesia. Kini stigma seorang pemimpin tidak lagi harus berwibawa, namun bagaimana ia tampil sederhana, membaur dan rajin bersentuhan dengan rakyat.
Pemuda-pemuda zaman ini pun lebih aktif mengawal jalannya pemerintahan, mulai berpartisipasi dalam pemilihan. Tidak hanya kalangan akademis, namun pekerja-pekerja kreatif pun turut serta menyuarakan aspirasinya. Terlihat dengan adanya konser musik sukarela ataupun meme-meme kreatif para pendukung Jokowi tersebar.
Ini merupakan nafas baru dan harapan besar. Optimisme seperti ini harus tetap dijaga, semoga amanah yang dibebankan kepada Jokowi bisa terlaksana dengan baik. Selagi hal itu benar dan untuk kemaslahatan hidup orang banyak, majulah terus Mas Joko, majuki Daeng Ucup. 

Tulisan ini pernah dimuat di revi.us pada tanggal 22 Oktober 2014

Share This Article


Tidak ada komentar: