Selasa, 13 Mei 2014

The White Castle


THE WHITE CASTLE
Penulis                 :               Orhan Pamuk
Penerjemah        :               Fahmy Yamani
Penerbit              :               PT. Serambi Ilmu Semesta, Jakarta
Cetakan I            :               April, 2007
ISBN                    :               979 – 1112 – 75 – 4

Blurb

Cerita ini berkisah tentang kehidupan seorang asal Venesia yang konon menjalani kehidupan sebagai budak di Istanbul, Turki, pada sekitar abad ke-17.  Karena pengetahuannya yang luas, sang Tuan yang sangat mirip dengannya berusaha dengan segala cara menggali semua pengetahuan sekaligus menguras semua pengalaman hidup si budak. Tuan dan budak harus mengarang banyak cerita ajaib dan menafsirkan mimpi sultan mereka yang abdi, termasuk merancang sebuah senjata pamungkas yang hebat. Ketika senjata aneh yang dianggap pembawa sial itu gagal menaklukkan istana Putih, kehidupan mereka pun terancam, terutama di budak kafir itu. Pertukaran jati diri diantara keduanya, yang terjadi disepanjang kisah, diungkapkan dengan cara unik dan membuat pembaca bertanya-tanya apakah menjalani kehidupan orang lain memang bisa membuat kita bahagia.

Review

       Buku yang cukup berat untuk dipahami. Orhan Pamuk sukses membuat saya berpikir tentang diri saya sendiri karena membaca tulisannya. Seperti kebanyakan novel terjemahan lainnya yang sering saya keluhkan, bahwa terjemahan kadang membuang sedikit emosi penulis didalamnya. Namun, terjemahan The white Castle ini menurut saya cukup bagus, sangat bagus malah. Novel ini bercerita tentang seorang budak yang benar-benar merenung mengenai diri sendiri. Meskipun penulis tidak menyebutkan dengan jelas apakah tokoh utama di buku ini hanya satu orang  atau memang dua orang, tapi menurutku si tokoh utama memang mempunyai penyakit bipolar. Dia telah menciptakan dua tokoh dalam hidupnya yang ia mainkan sendiri, sebagai budak dan sebagai seorang yang merdeka. Dia banyak berkontemplasi mengenai kehidupannya.

Pada hari-hari itu aku adalah orang yang berbeda bahkan ibu, tunangan, dan teman-temanku memanggilku dengan nama yang berbeda. Sesekali aku masih bisa melihat sosok diriku yang dahulu dalam sejumlah mimpi, atau sosok yang sekarang kuyakini sebagai sosok diriku yang dulu, dan aku terbangun bermandikan keringat. …

      Episode demi episode ia jalani mulai ketika ia dipenjara  di Istanbul karena kapalnya dibajak oleh armada Turki. Kepintarannya itu membuat dia tidak dibunuh oleh Sultan yang menahannya. Awalnya dia dikenal sebagai penyembuh di penjara, hingga pada suatu hari Sultan sakit dan ia dengan sukses menyembuhkan sang pemimpin muda itu. Kemudian seseorang yang bernama Hoja yang sangat mirip dengannya, menyelamatkannya dari penjara dan menjadikannya budak. Mereka pun mulai beraksi bersama.

     Mereka banyak saling bertukarpikiran dan jati diri. Nama mereka juga mulai cemerlang ketika mereka membuat kembang api dalam perayaan kerajaan hingga mereka berhasil memberikan solusi atas wabah yang menimpa rakyat Sultan. Mereka menjadi sering ke istana hingga ikut dalam peperangan merebut wilayah. Namun, nama Hoja-lah yang kerap kali tampil saat pekerjaan mereka berhasil, padahal pekerjaan itu sedikit banyak dilakukan oleh sang budak. Keikutsertaan mereka dalam Perang karena obsesi Hoja pada keberhasilan senjata yang ia ciptakan, ia selalu yakin akan ciptaannya itu bisa membantu Sultan. Namun sayangnya senjata itu hanya membawa sial bagi mereka dan Sultan seperti yang diramalkan oleh orang-orang disekitar mereka. Sultan sendiri kagum atas kecerdasan dan kemiripan mereka berdua.

Ketika melihat seorang pasien yang dirantai, aku tidak bisa menahan diri untukbertanya kepada dokter tentang pasien itu: Pasien lelaki itu pernah jatuh cinta, menjadi gila dan mengira bahwa dia itu orang lain seperti kebanyakan orang gila pada umumnya. 

      Saya sangat suka pada bab dimana tokoh dalam cerita ini harus menuliskan tentang diri mereka sendiri. Ketika mereka mulai mempertanyakan diri sendiri, menuliskan satu bab cerita dengan judul “Mengapa Aku adalah Aku” dan alhasil cerita yang tertulis adalah hanya cerita mengenai orang-orang disekelilingnya. Kukira itu terjadi pada diri saya, kerapkali. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan mengenai perenungan tentang diri sendiri yang didapatkan dalam buku ini.

Tentu saja seseorang tidak bisa menemukan siapa dirinya dengan hanya memikirkannya, atau hanya dengan melihat ke cermin; aku mengatakannya karena saat itu aku marah hingga ingin membuatnya kesal. Namun, tampaknya dia tidak percaya: dia mengancam untuk mengurangi jatah makanku, bahkan mengunciku didalam kamar jika aku tidak membuktikan keberanianku. Aku harus mencari tahu siapa diriku dan menuliskannya. Dia akan melihat bagaimana cara aku melakukannya, akan melihat seberapa banyak keberanian yang kumiliki….

“Sekarang kamu memandang ke sekelilingmu,persis seperti yang dilakukanny. Jadilah diri sendiri!” Jika aku tertawa karena terkejut, dia melanjutkan,”Nah, begitu lebih baik, bravo! Apa kalian tidak pernah becermin bersama-sama?” Lalu, dia bertanya siapa diantara kami berdua yang bisa menjadi diri sendiri saat kami menatap cermin.

     Saya juga sempat merasa bosan membaca buku ini di akhir-akhir cerita hingga saya percepat karena tidak mencapai klimaks apapun. Ceritanya hanya berputar-putar mengenai kehidupan dua tokoh ciptaan itu saja yang berusaha menyenangkan Sultan. Namun yang membuat saya tidak berhenti membacanya adalah karena rasa penasaran tentang akhir hidup si tokoh cerita ini.



Share This Article


Tidak ada komentar: