Selasa, 22 April 2014

PASUNG JIWA

PASUNG JIWA
Oleh Okky Madasari
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, Mei 2013
320 hlm; 2 cm

Blurb:

Apakah kehendak bebas benar-benar ada ?
Apakah manusia bebas benar-benar ada?
Okky Madasari mengemukakan pertanyaan-pertanyaan besar dari manusia dan kemanusiaan dalam novel ini.
Melalui dua tokoh utama, Sasana dan Jaka Wani, dihadirkan pergulatan manusia dalam mencari kebebasan dan melepaskan diri dari segala kungkungan. Mulai dari kungkungan tubuh dan pikiran, kungkungan tradisi dan keluarga, kungkungan norma dan agama hingga dominasi.


Review :

        Okky Madasari memang terkenal dengan novel-novel fiksi tentang keadilan dan kemanusiaan, Pasung Jiwa ini merupakan salah satu novelnya yang bertema sama.  Selain itu novel ini juga masuk sebagai salah satu finalis penghargaan sastra bergengsi di Indonesia, Khatulistiwa Literary Award. Cover novel cukup menggambarkan mengenai isi novel mengenai penjara tubuh dan pikiran.

      Ide novel mengenai transgender mungkin memang bukan ide yang baru namun pengarang mampu mengatur sedemikian rupa sehingga novel ini menjadi apik dan menarik. Membaca novel ini mengingatkan saya tentang pemikiran Freud atau pemikiran psikoanalisis pada umumnya bahwa tindakan pemikiran, kepercayaan, dan konsep tentang diri utuh dideterminasi atau dibentuk oleh ketaksadaran, serta berbagai dorongan dan hasratnya.  

       Hal ini tampak pada ceritera tentang si tokoh utama, Sasana.  Sasana adalah seorang anak dari Ayah yang bekerja sebagai ahli hukum dan Ibu yang berprofesi dokter bedah. Si anak dipaksa terbentuk sebagai perwujudan obsesi orang tua. Sasana harus mengikuti les piano dan menjadi anak cerdas kebanggaan orang tuanya. Hingga akhirnya Sasana menyadari bahwa dia lebih gemar dengan musik dangdut daripada musik-musik klasik yang dipelajarinya. Kemauan Sasana sangat bertentangan dengan kehidupannya sehari-hari. Sejak masuk kuliah dan jauh dari orangtuanya, Sasana akhirnya merasakan sedikit kebebasan dan bertemu dengan Cak Jek atau Jaka Wani, tokoh utama kedua di novel ini. Mereka saling melengkapi untuk mewujudkan impian mereka masing-masing. Namun tidak sedikit pengorbanan yang harus mereka hadapi bahkan sempat terpisah dan menjalani kehidupan yang suram. Selama perjalanan kehidupan itu mereka menyelami arti kebebasan yang dibebani oleh himpitan kondisi ekonomi, kekejaman para penguasa serta arti lingkar tradisi dan moral.
      Sasana dan Cak Jek juga bertemu dengan beberapa orang lain selama mereka terpisah seperti Banua yang ditemui Sasana saat sempat dirawat di rumah sakit jiwa, ataupun Elis seorang pelacur realistis yang ditampung oleh Jaka Wani selama menjadi buruh di suatu pabrik. Pengarang membagi-bagi beberapa bab sesuai dengan karakter masing-masing tokoh yang makin membuat novel ini menarik. Kata-kata menarik yang disampaikan oleh Okky Madasari dalam novel ini terwujud seperti dibawah ini:

Pikiran kerap hanya terbangun oleh tempelan-tempelan  yang kita ambil atau dipaksa masuk oleh sekitar kita. Sementara tubuh selalu diperlakukan sebagai pengikut pikiran. Ia tak hadir dengan kewengangan. Maka ketika tubuh bergerak sendiri, lepas dari pikiran, selalu dianggap pembangkangan. Berbagai hal disalahkan sebagai sumber pembangkangan itu. …
Sementara jiwa adalah kesadaran yang menempel dalam keberadaan manusia . Sangat kecil dan tersembunyi. Suaranya selalu jernih, tapi lirih tak terdengar. Kesadaran lama tak diperhatikan, akhirnya makin bersembunyi, kalah oleh timbunan-timbunan suara luar yang diyakini sebagai kebenaran.”

       Saya sendiri kurang suka bagian cerita yang menggambarkan bagaimana Sasana lari dari rumah sakit, agak klise. Tetapi secara keseluruhan novel ini mampu menceritakan kisah-kisah yang agak dekat dengan kehidupan sehari-hari, bahkan saya pun merenungkan diri sendiri setelah membaca novel ini.  Quote “Untuk setiap nyala keberanian yang tersembunyi dibalik ketakutan” di awal halaman saya kira sangat menggambarkan ide novel yang kurang berani disuarakan oleh berbagai lapisan masyarakat.


Share This Article


Tidak ada komentar: