Rabu, 23 April 2014

Haji Murad






Judul Asli : Hadji Murat
Terjemahan : Haji Murad
Pengarang : Leo Tolstoy
Penerjemah : Fahmy Yamani
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Tahun Terbit : Jakarta, Juli 2013
Tebal Buku : 1,5 cm
Jumlah Halaman : 242 hlm.

 Blurb :
Karya pamungkas Leo Tolstoy yang baru di terbitkan setelah kematiannya ini adalah dongeng moral paling dahsyat pada zaman kita.
Novel ini terinspirasi oleh sosok historis dan kontroversial yang didengar Tolstoy ketika bertugas sebagai tentara di Kaukasus. Kisah ini menghidupkan sang pejuang terkenal, Haji Murad, seorang pemberontak Chechnya yang berjuang dengan garang dan gagah berani melawan kekaisaran Rusia.
Haji Murad adalah gambaran menggetarkan sosok pejuang tragis yang masih dikenang hingga kini. Inilah sebuah kisah indah tentang cinta, perjuangan, dan pengorbanan yang layak Anda renungkan.

Review :
         Leo Tolstoy adalah sastrawan besar Rusia dan seorang filsuf yang terkenal lewat dua novelnya, Perang dan Damai dan Anna Karenina.  Sebenarnya agak mengejutkan mendapati Leo Tolstoy menuliskan kisah tentang perjuangan gigih seorang muslim bernama Haji Murad sedang Tolstoy sendiri adalah seorang anarkis Kristen. Novel Haji Murad ini berdasarkan kisah nyata yang dituliskan Tosltoy dari pengalamannya sebagai tentara muda saat bertugas di Kaukasus. Penulis mencari info sedetail mungkin tentang kehidupan sehari-hari Haji Murad dan sejarah militer serta politik waktu itu. Buku ini berlatar Perang Kaukasia yaitu perlawananan bangsa Chechnya memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan mereka melawan Tsar Rusia.
       Kesan detail langsung terpancar di bab pertama penggambaran penulis mengenai Hadji Murad. Pejuang ini digambarkan sebagai seorang guru spiritual sekaligus pejuang gigih yang rendah hati dan sederhana. Awalnya Haji Murad adalah seorang wakil atau administrator yang ditunjuk oleh Shamil, pemimpin perlawananan bangsa Chechnya kala itu. Lalu kemudian Shamil merasa bahwa Haji Murad menjadi ancaman baginya karena Murad tidak menginginkan Shamil memimpinnya dengan alasan bahwa darah Shamil adalah darah pembunuh semua keluarganya. Akhirnya Haji Murad pun membelot pada Tsar Rusia karena Shamil menyandera istri dan anak-anaknya. Pejuang gigih itu tidak mampu berbuat apa-apa pada Shamil selama keluarganya masih tertahan.

Bahkan dihadapan musuhnya sekalipun beliau sangat dihormati dan disanjung.

Tuhan memberikan lebih banyak bajingan Rusia kepada kita,”ujar Marya Dmitrievna tiba-tiba dengan nada kesal. “Dia hidup satu minggu bersama kita; kita tidak melihat apapun, kecuali kebaikan darinya,”ujarnya. “Sopan, bijaksana dan adil.”

       Namun pihak Rusia terus mengulur waktu sedang Haji Murad sendiri merasa terjepit memikirkan nasib keluarganya yang tertahan oleh Shamil. Akhirnya dia memutuskan lari bersama pengikut Avar yang setia dan pilihannya mati atau menyelamatkan keluarganya.

Kematian ini diingatkan kepadaku oleh serpihan bunga widuri ditengah ladang yang baru dibajak.

       Sebenarnya ide novel ini cukup menarik, namun penggunaan bahasanya agak timpang. Saya selalu percaya bahwa kumpulan tulisan dengan bahasa asal pengarang akan membawa makna lebih mendalam dibanding dengan terjemahannya, begitupun novel ini. Walaupun begitu, buku ini dilengkapi penjelasan istilah-istilah bahasa pengarang yang tidak familiar dalam bentuk catatan-catatan kaki. Penerjemah juga masih menyertakan beberapa percakapan dalam bahasa Perancis. Sayangnya, di akhir cerita sedikit mengecewakan buat saya. Haji Murad terbit setelah dua tahun kematian Tolstoy, saya agak yakin novel ini belum selesai dituliskannya atau mungkin masih dalam tahap penyempurnaan. HAHAHA

Share This Article


Tidak ada komentar: