Kamis, 27 Februari 2014

Short Story

Cerpen yang ndak tau apa judulnya.



Sejak melangkahkan kaki diruangan kantorku yang baru, aku merasakan udara aneh. Sepertinya menyesak dirongga dada, menghimpit. Aura lain memenuhiku ditempat ini, padahal aku baru saja menyesap angin laut seperti ini dan beberapa hari kedepan akan menjejali hal yang sama. Lokasi kantorku memang dekat dengan laut. Aku dipindahtugaskan ke daerah pesisir karena sesuatu hal yang agak malas kujelaskan disini. Di hari pertama aku harus berkenalan dan melakukan segala tetek bengek kelakuan pegawai baru pada umumnya. Tak lama aku hanya termenung di mejaku, untung saja aku punya ruangan sendiri yang terpisah dari pegawai lainnya. Selama sekitar seminggu pertama bekerja disini, aku belum terlalu sibuk. Proyek perusahaan ini memang baru saja mulai jadi masih perlu berbenah beberapa hal sebelum benar-benar memulai pekerjaan.
Aku masih ingat saat pertama bertemu dengannya. Tepat dihari Senin kedua aku bekerja akhirnya aku bertatap muka dengan dia dan aku hanya mampu tersenyum simpul. Beberapa hari sebelumnya aku sebenarnya tak sengaja melihat orang yang berseragam sama dengan seragam wajib tempatku bekerja, namun baru kali ini aku melihat wajahnya. Dia selalu menyandar ditiang halte tempat kami bersamaan menunggu bus antar kota. Setelah hampir setiap pagi mendapatinya, aku bahkan sudah hapal gayanya yang suka menunduk dan memainkan kakinya.
Akhirnya di minggu ketiga, aku mulai berbicara dengannya. Kini hampir setiap hari kami mengobrol mulai dari nama, tempat tinggal, kesibukan dan hal lainnya yang tidak terlalu bersifat pribadi. Hanya setiap pagi, tapi bagiku itu semacam penyemangatku setiap hari sebelum memulai aktivitas. Setiap malam sebelum tidur, aku seakan-akan ingin matahari lebih awal menjemputku. kami memang tak sempat bila harus berjumpa dikantor, bahkan dikantin pun aku tak menemuinya. Aku selalu menghabiskan waktu istirahat dengan bergosip bersama teman-teman perempuanku dikantor. Sebenarnya aku agak malas bersosialisasi tapi tak apalah, aku bisa lebih tertekan bila pekerjaanku tak diselingi dengan mencurahkan isi hati ke orang lain walau terbatas. Aku sebenarnya juga agak sulit menceritakan hal-hal pribadi dengan orang lain. Aku bahkan merasa tak pernah cocok dengan lingkungan sosial manapun. Dengan kata lain, aku adalah tipe orang yang tertutup. Aku selalu menyalahkan orangtuaku akan sifatku, sepertinya mereka tak pernah mendidik dan menyayangiku dengan benar.
Mungkin rasa sesak yang menghantuiku sejak awal kedatanganku mulai berkurang saat bertemu dan berbicara dengannya. Atau mungkin saja rasa sesak itu adalah dia. Entah sejak kapan kami mulai janjian bertemu sepulang kantor. Antara sadar dan tidak, aku menikmati kebersamaanku dengannya. Kadang aku takut, aku ingin lebih dekat tapi tidak ingin dia mengenalku lebih jauh. Seperti ini cukup membahagiakan meski selalu rindu. Kami mulai sering berkirim pesan atau bahkan saling menelpon berjam-jam. Kadang aku heran, dia mau saja melakukan ini itu untukku padahal kami baru saja kenal. Aku juga tak pernah bercerita mengenai perasaanku terhadapnya, tahukah dia?tak curigakah dia? Pernah suatu kali aku menanyakan soal pasangannya, tapi dia hanya membisu. Aku tersadar bahwa itu pertanyaan yang salah.
Sudah memasuki empat bulan kebersamaan kami, aku semakin gila. Aku mulai merasa protektif bila menyangkut dirinya. Aku hampir tak tahu mana yang lebih sering kulakukan, menghidup udara ataukah memikirkannya.  Pernah pula aku menunggunya didepan pintu kantornya di jam istirahat tapi dia tak kunjung muncul, aku malu bila harus bertanya kepada pegawai lain. Ah bukan malu, tapi takut. Aku takut mereka akan mencurigaiku bila tiba-tiba saja aku mencari orang yang tak pernah kutemui atau bahkan tak mungkin punya urusan denganku. Wajar saja, yang kutahu dia berkantor di lantai empat. Aku hanya pernah melihat namanya di orchart perusahaan. Bukan pernah, tapi beberapa kali jika sedang merindukannya. Kadang aku bertanya pada diri sendiri, dia begitu perhatian terhadapku tapi tak pernahkan terlintas dipikirannya untuk bertemu denganku di kantor? Tak pernahkah dia merasa rindu padaku? Apakah dia memikirkanku? Apakah kita berdua salah? Kalau ada yang perlu disalahkan, tolong salahkan nafsuku yang tertarik padanya.
Saking gemasnya, suatu hari aku mulai mencari tahu tentang dirinya. kutelusuri jaringan sosialnya hanya untuk tahu apakah dia pernah mengunggah foto-fotonya atau foto pasangannya. Bisa jadi dia telah menikah tapi aku saja yang tak tahu. Tapi bila benar dia sudah menikah, tidak mungkin kami bisa saling menelpon berjam-jam atau bahkan hampir tiap saat bertukar pesan. Sayangnya, dari sekian intensifnya komunikasi kami berdua, kami sangat jarang menceritakan kehidupan pribadi masing-masing. Kami hanya bercerita tentang hal-hal yang bersifat umum. Aku hanya menemukan sebuah foto di jejaring sosialnya, itupun foto “selfie” dipinggir laut yang dekat dari kantor.

Suatu sore sepulang kantor aku berencana menemuinya. Baru pagi itu aku tak bertemu dengannya, penasaran apakah dia sedang sakit atau sesuatu terjadi padanya. Seharian aku seperti kehilangan matahari penyemangat, hanya duduk lemas di kursi putarku. Aku khawatir, gelisah menunggu matahari mulai malu-malu tanda aktivitas ditempat kerja harus disudahi. Beberapa kali aku menelpon telepon genggamnya tapi tak jua aktif. Aku hanya tahu nomor telepon selularnya, tak tahu nomor rumahnya. Bahkan rumahnya aku tak tahu dimana, aku hanya tahu nama jalannya. Sebagai orang yang baru beberapa bulan tinggal di kota itu, letak jalan itu pun aku tak tahu. Aku kebingungan di halaman depan kantor. Aku sadar, sedikit sekali hal tentangnya yang ku ketahui. Kuputuskan untuk segera pulang saja, mungkin aku terlalu berlebihan. Paling-paling esok hari dia muncul lagi dengan tawa terbahak-bahaknya yang konyol.
Ini pagi ketiga aku tak menemuinya dihalte bus. Aku mulai kacau. Setiap sejam aku menelponnya tapi tidak pernah aktif, smsku mungkin sudah puluhan tapi tak satupun yang terkirim. Aku sudah terlampau jauh menyukainya. Aku memang menyukainya, kalau soal cinta pun aku tak tahu. Kata mereka, cinta dalam hubungan seperti ini itu tidak ada, yang ada hanya nafsu. Akhirnya aku memutuskan untuk mendatangi kantor tempat dia bekerja. Toh cuma berbeda beberapa lantai dengan ruangan kantorku. Baru saja membuka pintu ruang depan, aku mendapatinya sedang membersihkan kaca. Dia memang hanya seorang cleaning service, beda denganku yang berprofesi sebagai assistant engineer tapi diperusahaan yang sama. Dia tertegun melihatku, seakan ingin lari tapi hanya membeku ditempat. Kulihat petugas front office tiba-tiba berbisik dengan temannya namun tetap bertanya tentang keperluanku kekantor itu. Aku hanya menjawab pelan meminta izin ingin berbicara dengan petugas cleaning service didepanku ini.
Dia menarikku keluar ruangan menuju lift, kami hanya diam sepanjang jalan lift menuju lantai satu. Akhirnya dia membuka suara ketika kami bersamaan masuk ke dalam toilet lobby.
“Maaf,” katanya sedikit berbisik.
Aku tiba-tiba mencecarnya dengan berbagai pertanyaan tentang kabar dirinya, mengapa dia tak pernah terlihat lagi di halte, tak pernah mengirim pesan atau membalas pesan, tak pernah menghubungiku. Lama sekali dia hanya terdiam menunduk tak membantah tapi aku tahu dia mendengarkan dengan seksama. Saat itu aku malah berharap dia membantahku, memberikan alasan-alasan lalu kembali seperti semula. Bahkan alasan tak masuk akalpun aku terima asal dia kembali seperti dulu. Tak tahukah dia bahwa aku merindunya sejak pertama wajahku tercermin dimatanya.
Setelah aku diam beberapa saat, dia membuka suara. “ aku akan menikah minggu depan, Ibuku menjodohkanku dengan anak sepupunya,”. Tapi aku tak kaget, aku hanya merasakan sesak yang lebih menghimpit daripada saat pertama menjejakkan kaki dikota ini. Aku sudah pernah memikirkan hal-hal seperti ini.
“Aku tak peduli, tapi bisakah kau bersikap seperti biasa saja? Seperti dulu saja, saat kau selalu berkata kau rindu memelukku,” kataku seperti sedikit memohon.
“Kota ini masih cukup terpencil Lex, semua orang membicarakan hal-hal terkecil pun yang mereka temui dijalan. Bahkan soal hubungan kita, Ibuku pun mendengarnya. Mungkin karena itu dia tiba-tiba menjodohkanku,” kali ini volume suaranya meninggi.
“Lex, dikota ini hubungan sejenis masih tabu. Orang-orang melihat jijik kepadaku. Setiap hari Ibuku memakiku. Aku tidak bisa lagi melanjutkan hubungan ini denganmu, “ lanjutnya lagi. Dia lalu meninggalkanku pergi ketika seorang remaja laki-laki memasuki toilet.
Aku hanya terhenyak sambil bercermin di cermin toilet itu sementara orang-orang lalu lalang bergantian buang air kecil dibelakangku. Mungkin saja aku tak pernah merasa seperti Doni karena aku orang baru didaerah ini, tak ada orang yang memakiku secara langsung. Mungkin saja aku pura-pura buta saat orang-orang lain dihalte melihat-lihat aneh saat kami mengobrol mesra setiap pagi. Mungkin saja aku pura-pura tuli saat teman-teman perempuanku mengolok aku jarang terlihat jalan bersama teman laki-laki dikantor, malah lebih sering bergosip dengan mereka. Mungkin tanpa sadar aku selalu saja mengeluh merasakan aura aneh dan tak pernah merasa cocok dilingkungan manapun. 


 Makassar, 25 Februari 2014


Share This Article


Tidak ada komentar: