Kamis, 02 Juli 2015

Pelangi-pelangi Alangkah Indahnya

Ebony and Ivory live together in perfect harmony
Side by side on my piano keyboard, Oh Lord, why don’t we?

We all know that people are the same wherever we go
There is good and bad in everyone
We learn to live, we learn to give
Eachother what we need to survive together alive

Saya selalu suka mendengar lagu berjudul Ebony dan Ivory yang dinyanyikan oleh Paul Mccartney dan Stevie Wonder ini. Lagu ini lamat-lamat terdengar didalam kepalaku saat membaca kontroversi legalisasi pernikahan sesama jenis di berita online. Pun marak di media sosial. Tagar #LoveWins masih menjadi tren topik sampai sekarang pun pemasangan gambar pelangi sebagai dukungan atas keputusan tersebut. Walaupun sebenarnya Argentina 5 tahun lebih dulu melegalkan pernikahan sejenis namun diyakini bahwa putusan Mahkamah Agung AS ini lebih berdampak ke seluruh dunia. Selain secara politis adalah negara adidaya, AS juga berpengaruh besar di ranah sosial atau media. Ofcourse, who rule the media rule the world. Tak heran jika media sosial menggembar-gemborkan soal peraturan baru ini.

Saya hidup berdampingan dan dekat dengan beberapa orang yang gay dan lesbian. Entah saya harus merasa jijik atau tertawa saat mendengar pacar teman saya mendesah erotis dari dalam kamar. Sementara mereka hanya berdua didalam kamar, lalu apa lagi yang terpikir oleh saya? Hidup bersebelahan kamar dengan seorang lesbian memang membuat saya agak waspada dan segan mengakrabkan diri. Dia adalah sahabat teman saya yang kebetulan dipanggil menemani saya yang sendiri dirumah berkamar tiga. Terlalu banyak kekosongan untuk dihidupi. Kehidupan yang kurang represi itu membuatnya sering membawa pacar menginap. Maka dari itu, saya tak jarang mendengar gedebuk-gedebuk perkelahian, tawa ataupun desahan. Ternyata saya kesepian dikamar sendiri. Bahkan, saya agak waspada bila berpakaian minim di rumah, padahal dia juga muhrim. Dia sepertinya berperan sebagai laki-laki untuk pasangannya. Pasangan lesbian standar pada umumnya, teman saya yang sangat tomboy dan pacarnya yang feminim.

Saya pun sempat nongkrong beberapa kali dengan para lesbian muda di KFC Ratulangi. Banyak dari mereka yang berkenalan dan pacaran via Facebook. Mereka punya komunitas di media sosial, tempat saling berbagi dan berkenalan. Bahkan saya juga mendengar cerita-cerita gila para lesbian dari mereka. Love is blind, darling! Mereka rela berkorban apapun demi cinta pada pasangannya.
Lain lagi dengan sahabat saya yang berjenis kelamin laki-laki. Dia seorang gay, tapi kelakuannya didominasi oleh sifat jamaliyah. Saya memperlakukannya pun bak perempuan, bermanja, bergelayut dan bergosip. Meskipun kadang, orang-orang bilang kami sebaiknya pacaran saja. Tapi, perlu kalian tahu, kami tak mungkin bersama karena selera kami “sama”. HAHAHA. Sahabat saya ini tak jarang menunjukkan foto kemesraannya ataupun percakapannya dengan pasangannya. Rasa jijik mungkin ada tapi dia sahabat saya yang super baik. Dia pernah bercerita masa kelam penyebab dia menjadi seorang gay sampai sekarang. Dari dia pula kuketahui soal situs-situs chatting sesama gay atau kelakuan-kelakuan seksual aneh para pasangan sejenis.

Dari cerita-cerita mereka, kuketahui penyebab seseorang menyukai sejenis kebanyakan karena trauma. Entah trauma masa kecil atau sakit hati karena pasangan lawan jenisnya. Sebenarnya saya ingin bercerita lebih detail, namun saya sudah berjanji tidak menceritakannya pada siapapun. Biarlah menjadi rahasia pribadi masing-masing para penyuka sejenis itu.

Saya dihadapkan pada masalah apakah saya harus menentang atau mendukung. Sungguh absurd memilih antara kebenaran dan kebaikan. Saya meyakini bahwa menyuka sesama jenis tidak dianjurkan oleh agama, namun bukankah setiap agama bernafaskan perdamaian dan kebaikan. Dalam hal ini, apakah mungkin saya mengecam sahabat yang baik, bahkan lebih baik dari mereka yang menyebut diri “normal”. Saya kira, LGBT terus mempertanyakan tentang toleransi sesama manusia. Saat ini, adanya peraturan legalisasi pernikahan sejenis dan menjamurnya komunitas LGBT secara terang-terangan menunjukkan keeksisan mereka. Dunia bukan lagi terdiri dari hitam dan putih, namun merah hijau kuning biru nila ungu pun turut meramaikan interaksi sosial masyarakat. Tidak hanya lelaki dan perempuan yang berpasangan, namun ada lesbian, gay, biseksual dan transgender. Bukankah warna-warna lebih indah bila disandingkan bersama?

Share This Article


2 komentar:

Bimo Aji Widyantoro mengatakan...

saya tidak tahu harus berkomentar apa kalau menyangkut masalah si pelangi yang lagi tren sekarang

Tapi jujur saya sangat menolak adanya legalisasi pernikahan sesama jenis ini

Livio Gibran mengatakan...

"Sungguh absurd memilih antara kebenaran dan kebaikan".Secara manusaiawi terkadang kita terjebak untuk menjadi manusia baik bagi mereka yang berlaku baik. Tetapi, apa selamanya kita menyembunyikan kebenaran dan membiarkannya terlena dalam suatu perbuatan yang tak seharusnya??