Kamis, 28 Mei 2015

Eks Tapol



Buku               : Mati Baik-Baik, Kawan.

Pengarang       : Martin Aleida

            Membaca Martin Aleida semacam tenggelam di babak kelam Indonesia. Dengan fasih dia menjelaskan perasaan-perasaan yang teraniaya di Peristiwa ’65. Tema besar buku ini adalah kesedihan dan si pengarang dengan cerdiknya membuat kita geram sekaligus sedih. Cerita-cerita yang membuat saya mencoba mencari sisi-sisi lain dari sejarah Indonesia.
            Saya kira, Martin mudah membuat kita seolah-olah mengalami kejadian yang ditulisnya karena dia juga salah satu saksi sejarah kekejaman masa ini. Dia juga pernah di penjara karena keterlibatannya dengan Partai Komunis Indonesia. Cerita-cerita Martin juga sebenarnya tidak terlalu menjadi misteri bagi kita, tapi dia tetap lihai membuat kita terus membaca tulisannya.
            Di beberapa cerita terlihat sisi spiritual Martin, seperti di Dendang Perempuan Pendendam dan Shalawat untuk Pendakwah Kami. Namun kesan tentang pelaku-pelaku di masa 65 tetap terasa. Saya teringat masa-masa terkenalnya program bertajuk Rahasia Ilahi di dunia pertelevisian Indonesia. Dendang Perempuan Pendendam pun bergenre sama. Tentang seorang perempuan yang tak pernah ikhlas memaafkan seseorang yang telah meninggal hingga kuburan orang tersebut takkan pernah cukup lapang. Sedangkan Shalawat untuk Pendakwah Kami bercerita tentang seorang lelaki dengan titel haji di puja-puja orang-orang disekitarnya. Cerita favorit saya adalah Ode untuk Selembar KTP. Uang memang tidak pernah terlalu banyak untuk sebuah prestise atau kelegaan. Tentang seorang perempuan yang ingin lepas dari kengerian menjadi seorang eks tapol, meski harus bertahun-tahun menabung.
            Cerita yang paling gila di buku kumpulan cerpen ini adalah Ratusan Mata di Mana-mana. Ini merupakan cerpen yang mengandung amarah serta protes. Bentuk protes selama dia bekerja di sebuah koran ternama di Indonesia. Benar-benar di luapkan secara pribadi oleh sang pengarang. Dia tidak ragu menyebut nama dan hal-hal yang tidak disukainya, termasuk sang legenda, Goenawan Muhammad. Disini juga dia bercerita sedikit tentang pengalamannya sebagai eks tapol.


Share This Article


Tidak ada komentar: