Senin, 06 Juli 2015

Delusi Stockroom


                Menjamurnya ruang-ruang kreatif yang disokong oleh anak-anak muda lokal memberi nafas baru bagi Makassar. Kota ini mulai menjadi bahan pembicaraan di Indonesia beberapa tahun belakangan. Sejak dulu sentra pengetahuan, kreatifitas dan modernitas berfokus di daerah Jawa dan sekitarnya. Hingga saat ini mulai bermunculan anak-anak muda Makassar berprestasi bahkan sampai taraf internasional. Hal itu tidak luput dari gerakan-gerakan ekonomi kreatif yang berbasis DIY atau handmade. Salah satunya adalah Delusi Stockroom.

                Berawal dari saya yang sedang mencari buku The Catcher In The Rye karya J.D. Salinger terbitan Banana Publisher. Saya ke perpustakaan KataKerja tapi ternyata bukunya telah habis. Namun, sepertinya saya sedang beruntung maka pesanan orang lain beralih ke saya. Tiba-tiba, teman saya yang bernama Ekbes cerita bahwa kamu juga bisa mendapatkan buku yang sama di Delusi Stockroom. Delusi ini bermarkas di jalan Kumala, lanjutnya. Saya pun sigap mendengar karena dibandingkan Katakerja, Delusi lebih dekat dari tempat tinggal saya. Foto-foto Delusi Stockroom juga dipasang Ekbess di akun instagramnya. Makin penasaran lah saya.

                Akhirnya, pada hari Minggu tanggal 5 Juli malam saya memutuskan kesana. Hari itu sebenarnya saya tidak punya rencana sama sekali. Sore hari menjelang buka, saya kopdar bersama teman-teman Klub Buku Makassar di Mama Toko Kue dan Es Krim. Kemudian kami bergosip tentang penulis dan hal-hal lain yang umum dibicarakan perempuan. Eits, namanya memang klub buku tapi kami tidak semembosankan kutu buku yang sejak dulu terstigma di pikiran anak-anak muda yang katanya “gaul”. Terpikir lah saya untuk mengunjungi Delusi Stockroom.

                Setelah janjian bertemu dengan dua orang yang berbeda, tepat pukul Sembilan saya melaju menuju Kumala. Saya tidak tahu persis alamatnya, chat ke Ekbess pun tak di balas. Hanya bermodal gambaran toko disamping masjid saya beranikan diri mencari tempat itu. Ternyata tempatnya sangat mudah didapat. Setelah lampu merah Andi Tonro, belok kiri lalu jalan terus sampai bertemu masjid di sebelah kiri. Nah, Delusi Stockroom tepat disamping kiri masjid itu. Sekitar 200m dari lampu merah.

                Saya sempat malu-malu karena banyak lelaki yang nongkrong didepannya. Tapi, karena rasa penasaran yang tinggi, saya nyelonong masuk saja ke tempat itu. Akhirnya sang pemilik bertanya standar pertanyaan penjual pada umumnya,”Cari apa ki'?” Saya hanya tersenyum dan bilang hanya ingin melihat-lihat saja soalnya penasaran dengan cerita teman. Lama kelamaan kami cerita panjang lebar, saya bilang kalau tempat ini diceritakan oleh Ekbess. Rupanya si Ekbess baru saja meninggalkan tempat itu sekitar 15 menit sebelum kedatangan saya. Mungkin kami belum jodoh bersua.


                Delusi Stockroom ini dimiliki oleh Fajri dan sudah berdiri selama tiga bulan. Dia menjual kaos-kaos hasil sablonannya sendiri. Buku-buku jualannya kebanyakan tidak tersedia di Gramedia. Jadi, Delusi ini bisa jadi salah satu referensi toko buku alternatif di Makassar. Fajri mengaku memesan buku-bukunya dari luar Makassar. Banyak juga kawannya yang menitipkan barang-barang jualannya, seperti tas atau purse handmade, termasuk craft milik Ekbess. Dia juga memajang media-media alternatif tapi sebagai bahan bacaan, bukan jualan. Semacam zine Penahitam dan Kontinum. Lelaki gondrong itu bercerita bahwa stock barang-barangnya masih sedikit namun orang bisa memesan sesuai keingininan. Jika ingin tahu lebih banyak tentang toko ini, bisa di cek di Facebook Fanpage Delusi Stockroom. Semoga sukses terus ya!



Share This Article


Tidak ada komentar: