Selasa, 12 Maret 2013

gelang

(hasil tugas menulis tentang benda kesayangan dari kakak hurufkecil..:p)





“nih.. buat kamu’, kata Malik, pacar baruku. Hari itu tanggal 3 Juni tepat dua bulan aku pacaran dengannya dan kerap bersamanya. Hampir tiap hari aku menghabiskan senja dengannya. Mungkin saja bulan berkata lain bila aku bertemu dalam balutan cahayanya, tapi matahari yang memegang saksi. Terang saja aku bahagia. Kejutan-kejutan kecilnya adalah poin penting pertahanan cintaku untuknya. Kali ini dia memberiku sebuah gelang dari tali prusit berwarna oranye. Sederhana seperti penampilan Malik, gelang itu hanya terlilit dua kali tanpa embel apapun. Dia lalu memasangkan gelang itu ditanganku. Tapi aku hanya menjawab “Trims,” dengan kurang semangat dan hampir seolah tidak peduli. “tidak suka?” tanyanya. “tentu saja saya suka semua bentuk cintamu padaku” kataku agak berlebihan untuk menenangkannya. Lalu kami berdua tersenyum kecil. “kau tahu, aku selalu membuat satu gelang setiap berhasil menaklukkan satu puncak. Gelang yang kau gunakan itu aku buat di puncak kedua yang ku daki. Sedangkan yang aku pakai adalah gelang yang ku buat di puncak pertama,’ katanya sambil menjulurkan tangannya yang penuh berbagai macam model gelang. Aku melihat gelang berwarnya oranye menyala diantara gelang-gelang ditangannya. Malik memang baru saja pulang dari mendaki. Hari ini rasanya ingin menghambur memeluknya, rinduku seperti air mata yang menumpuk dipelupuk mata untuk melesak jatuh. Tapi kami berdua sedang dikampus, tidak mungkin aku memeluknya didepan semua orang.
Malik memang seorang pendaki gunung ulung. Aku berkenalan dengannya ketika aku ingin mengikuti “fresh camp’ yang hampir tiap tahun diadakan mahasiswa pencipta alam di fakultasku. Tapi pada akhirnya aku tidak jadi ikut. Agak lucu juga mengingat-ingat kejadian itu. Selain pendaki ulung, dia juga sangat ulung menggulung seluruh perhatianku untuknya. Mendengar ceritanya tentang gelang itu, aku tiba-tiba bersemangat. Segera saja benda itu ku deklarasikan jadi barang kesayanganku. Gelang itu seperti memiliki sihir yang memikat hati semua orang disekelilingku. Tidak hanya kakak perempuanku yang mencoba merebut gelang itu dari tanganku, bahkan teman-temanku yang kupikir tidak akan mau memiliki gelang prusit memaksaku memberikan gelang ini. Padahal gelang ini sesederhana kertas putih tanpa tinta. Entahlah, mungkin cinta yang kuat didalamnya mempengaruhi aura semua orang. Gelang itu terpasang di tangan kiriku dan hanya seperti terlihat dua garis oranye mengelilingi pergelangan tanganku. Sejak Malik memberikannya aku tak pernah melepasnya barang sedetik pun, bahkan saat mandi sekalipun. Namanya juga benda kesayangan, tentu sulit melepaskannya dari pandangan.
Malik dan aku telah menjalin hubungan selama 4 bulan. Namun belakangan ini aku mulai sering mengeluh padanya. Kekasih mana yang tidak kesal melihat pasangannya menaruh perhatian pada perempuan lain yang baru saja dikenalnya. Saat ini Malik memang sedang sering nongkrong di TimeLine twitternya sejak memiliki Ipad yang dibelikan mamanya. Bahkan saat bersamaku pun kadang-kadang dia lebih sibuk mengomentari status twitter teman-temannya dibanding berbicara denganku yang jelas-jelas nyata dihadapannya. Jaman sekarang memang sulit mendefinisikan realitas. Tapi keluhanku selalu tidak terjawab oleh Malik, dia kadang-kadang berpura-pura tidak dengar atau mengalihkan perhatian ketika aku mulai mengeluh tentang hal itu.
Pagi ini aku murka, sedikit hampir menangis ditempat tidur. Pasalnya Malik telah keluar dari redline hubungan kami berdua. Segera saja aku kirimkan pesan singkat tentang putus hubungan dengannya lalu mematikan ponsel. Semalam ketika Malik berkunjung kerumahku seperti biasa di Malam Minggu yang telah menjadi rutinitasnya, Malik tiba-tiba meminjam ponsel BlackBerry-ku. Ternyata Ipad-nya kehabisan baterai dan dia perlu akses internet, entahlah untuk apa. Aku baru tahu ketika aku menyalakan ponselku pagi ini. Ternyata semalam dia menggunakan aplikasi twitter di ponsel Blackberry-ku dan ternyata akun Malik masih ter-log in. Memang semalam ponsel itu mati tiba-tiba karena kehabisan baterai pula dan Malik  belum sempat memutus akunnya. Karena rasa penasaran yang besar akhirnya aku mengutak-atik akunnya. Maka bertemulah aku dengan penyebab kekesalanku. Aku melihat direct message-nya dengan seorang perempuan yang tak kukenal. Tentu saja isinya adalah keakraban  yang tidak wajar menurutku karena aku sedang menjalin hubungan dengan Malik. Makin murkalah aku ketika mendapat balasan singkat darinya yang berisi “terserah”
Maka aku menangis menjadi-jadi dibalik bantalku. Sekitar setengah jam aku bermuram durja sambil melihat-lihat gelang ditanganku. Aku mulai introspeksi diri, sebenarnya kurang baik apa aku untuknya selama 6 bulan pacaran. Setelah air mataku puas menenangkan hatiku, aku mulai berbenah dan kembali menjalani aktivitas seperti biasanya. Mungkin Tuhan terlalu baik padaku sehingga dia tidak ingin aku bersama dengan orang yang tidak baik, kataku dalam hati. Memang sulit melepaskannya tapi aku juga pantang memohon kembali padanya karena aku yang minta putus dan tidak merasa bersalah sedikitpun. Akhirnya setelah seminggu putus dari Malik, hatiku tak galau lagi. Tapi putus bukan berarti aku melepaskan semua barang-barang pemberiannya. Aku bahkan masih sering mengagumi gelang oranye ditanganku, gelang itu tetap menjadi barang kesayanganku.
Belakangan ini desas desus mengenai pacar baru Malik sampai ditelingaku. Tanpa bertanya kesana kemari, berita itu disampaikan sendiri oleh teman-teman Malik yang juga temanku. Sedikit kesal karena menurutku dia terlalu cepat menjalin hubungan dengan orang lain lagi sejak putus dengan. Tapi sudahlah, mungkin dia memang tidak pantas untukku. Meskipun kadang-kadang aku tergoda untuk menghubunginya lagi, tapi aku selalu mencoba menahan diri. Pasalnya, kejadian kemarin itu tidak cukup memotivasiku untuk membencinya. Kadang aku berpikir apakah aku yang terlalu posesif.
Saat itu aku berjalan menuju ruang kelas dari kantin, sedikit cepat aku melangkah karena kulihat pintu sudah tertutup. Sepertinya dosenku kali ini datang lebih cepat. Tiba-tiba seseorang menubrukku dari samping, perempuan itu sepertinya juga sedikit terburu-buru keluar dari ruang kelas. Aku sempat mengumpat kesal namun kemudian aku mendengar percakapan sesesorang dari balik pintu. “Gelang ini katanya dibuat sama Malik waktu dia dipuncak kedua digunung yang dia daki minggu lalu. Keren kan?” terdengar sayup-sayup suara cempreng seorang gadis dari balik pintu dalam kelas. Kemudian aku menengok sedikit dan melihat gadis yang diceritakan teman-temanku notabene adalah pacar Malik saat ini. Dia kemudian terdiam sejenak melihatku, lalu membuang mukanya. Aku melihat gelang prusit berwarna merah marun  menggulung pergelangan tangannya. Tanpa berkata apa-apa pada perempuan yang kutabrak, secepat kilat aku menuju ruangan kuliahku dan mengambil gunting kecil dari tempat pensil Maya, teman kelasku. Tanpa pikir panjang, aku menggunting gelang oranye yang terpasang manis dipergelanganku.

Share This Article


Tidak ada komentar: