Rabu, 18 Maret 2015

MEMBACA

selalu ada pertanda yang dapat ku baca di bagian tubuh seseorang
entah itu mata, mimik wajah, garis-garis tangan atau tungkai

suatu hari, aku jatuh di sungai bidadari
Jaka Tarub yang menyadarkanku.
Aku membantunya mencuri selendang Nawangwulan

aku mengagumi kuku-kuku, siku, dagu, pun bahu milik Nawangwulan
setiap ada sekelebat berkat mencegat
takkan ku tunggu lama menafsirkan gerak gemulai tubuhmu, Nawangwulan.

kukira alam telah lama berkonspirasi perihal ini
perihal aku yang menebak masa lalu dan masa depan orang lain
pun perihal kau sang dewi dan tanpa arti yang sanggup kutangkap

angin selalu menyuruhku mengejarmu
katanya, tidakkah aku penasaran dengan ketidaktahuanku?
ketidaktahuan yang makin menjadi-jadi saat rambutmu dikibaskan olehnya

aku selalu beralasan rambutmu menghalangi pembacaanku.
tiap helainya seperti perisai hitam kokoh menggelungmu
dan angin menghempaskan keraguanku atasnya,

kata ular, aku harus menyentuhmu
tapi aku tahu takkan ada kejutan listrik,
reaksi yang selalu muncul setiap tanganku menyentuh kulit asing
Bahkan kau mungkin melihatku seperti bisa mematikan

Lalu burung beo menyuruhku memanggilmu
Maaf beo, bukannya aku merendahkan
tapi kerendahan hati yang ahli menaklukkan simpati
bukan omong besar yang membeo

Tiba-tiba roh Nawangsih melayang-layang
Meronta atas hidupnya yang belum juga mendiami janin
Dia berbisik, jatuh cinta-kah atau penasaran-kah aku?
aku terhentak dan merutuk sekaligus merindu

Nawangwulan, yang selamanya tak mampu ku baca.

Share This Article


Tidak ada komentar: