Selasa, 17 Maret 2015

IL POSTINO


IL POSTINO
Antonio Skarmeta
Penerjemah : Noorcholis
Penerbit Akubaca
Jakarta, September 2002
171 hlm

Blurb     :

Bagai sekuntum bunga pada wanginya
Aku terikat pada kenangan samar tentangmu.
Aku hidup dengan perih yang mirip luka.
Jika kau sentuh aku, kau kan merusakku hingga mustahil diperbaiki.

Review :

Kukira Antonio Skarmeta tergila-gila pada puisi-puisi Pablo Neruda. Dia mengabadikan Neruda dalam novelnya ini meskipun tidak secara detail. Maksudku, siapa yang tidak jatuh cinta pada Neruda? Dia sering menulis puisi-puisi yang berbau politis sekaligus surealis dan membuatnya menjadi pemenang Nobel. Puisi-puisi cinta dan erotiknya pun memikat.

Novel ini berlatar kisruh politik di Republik Chile dimana Pablo Neruda sempat di calonkan menjadi presiden. Neruda yang juga seorang komunis akhirnya memberikan suaranya kepada Salvador Allende. Namun, tokoh utama sebenarnya bukan Pablo Neruda melainkan seorang bocah yang bekerja sebagai tukang pos bernama Mario Jimenez.

Saya sempat menduga-duga bahwa Antonio Skarmeta sebenarnya menggambarkan kekagumannya pada Pablo Neruda lewat Mario Jimenez.

Selalu begitu setiap hari: dimulai dari pertemuan amat singkat dengan si penyair hingga matahari surut dan tiba waktu tidur, sang tukang pos akan selalu membawa-bawa buku Elementrial Odes-nya dengan harapan suatu hari kelak mampu mengumpulkan keberanian yang di perlukan. (hlm. 25)

Demi kesetiaan mutlaknya pada sang penyair, ia bersumpah tidak akan bunuh diri sebelum membaca lembar demi lembar dari tiga ribu halaman buku yang dihadiahkan kepadanya. (hlm. 50)

Sebagai tukang pos, Mario Jimenez hanya bertugas mengantarkan surat pada satu orang, yaitu Pablo Neruda. Kebahagiaannya membuncah ketika tahu tugasnya walaupun tidak dibayar sesuai dengn kesulitan pekerjaannya itu. Hari demi hari dia selalu berusaha membuka pembicaraan dengan sang penyair. Sang penyair yang notabene seorang yang tidak acuh tentu saja merasa terganggu dengan si bocah. Namun pada akhirnya mereka akrab sampai Pablo Neruda di nobatkan menjadi wali mempelai saat pernikahan Mario dengan Beatriz Gonzales.

Saat pemilihan Presiden pun Mario tetap mempertahankan kebaikan nama Neruda meskipun Neruda harus meninggalkan kota mereka karena tetek bengek arus politik di Chile. Hampir semua orang didaerahnya pun memilih lawan politik Neruda karena merasa bahwa penyair tidak pantas menjadi presiden.

Neruda adalah penyair besar. Mungkin terbesar dari sekalian penyair malah. Tapi jujur saja, Bapak-bapak, tak bisa saya bayangkan beliau sebagai presiden Chile. (hlm. 52)

Terinspirasi dari Neruda, Mario pun mulai mebuat puisi-puisi indahnya sendiri dan mempersembahkannya pada perempuan yang dicintainya. Mario juga kerap membacakan puisi Neruda untuk Beatriz pun didepan khalayak ramai pada acara politik-kebudayaan Partai Sosialis San Antonio. Tak ada keraguan bahwa perempuan manapun akan meleleh dibacakan puisi Neruda, aku pun.

“Tidak, Ibu! Ia menatapku dan kata-kata itu meluncur dari mulutnya bagai burung-burung.” (hlm.61)

Telanjang engkau sesederhana sebelah tanganmu,
halus, duniawi, mungil, bulat, tembus pandang, gurat apel, lingkar bulan
Telanjang engkau sehalus terigu.
Telanjang engkau bagai malam di Kuba yang biru
Merambat sulur-sulur anggur dan mengerjap bintang-bintang di rambutmu.
Telanjang engkau begitu indah dan begitu kuning
bagai musim panas di gereja bersepuh emas.
(hlm. 76)

Mario dan Beatriz pun akhirnya menikah setelah ditentang sekuat tenaga oleh Ibu mempelai wanita. Sesuai janjinya, Pablo Neruda menjadi wali mempelai. Setelah itu, Pablo pun berangkat ke Perancis karena ditunjuk oleh Presiden Salvador Allende menjadi duta besar disana.

Sang penulis novel ini, Antonio Skarmeta, dengan apik menceriterakan kehidupan Mario Jimenez dan istri sampai mereka mempunyai anak bernama Pablo Neftali. Di sela-sela itu, Antonio tetap menyertakan kondisi politik di Chile. Sampai akhirnya Presiden Allende dibunuh dan Pablo Neruda pun menjemput kematiannya.

Aku pulang ke laut dibungkus langit,
kesenyapan antara dua gelombang
menciptakan ketegangan wingit,
kehidupan mati, darah berhenti
lalu gerak baru mengembang
dan suara ketidakberhinggaan kembali kumandang
(hlm. 142)

Il Postino telah diterjemahkan lebih dari 25 bahasa. Terjemahan bahasa indonesianya bagus, pun sampul dengan kutipan puisi cukup menarik.
Novel ini sangat saya rekomendasikan bagi para pecinta puisi dan penyair di dunia. Kalimat-kalimat yang menggambarkan tentang puisi begitu menggugah.

“Bukan, Pak. Puisi itu tidak aneh. Yang aneh adalahg apa yang saya rasakan ketika anda mengucapkannya.”(hlm. 33)

Beberapa puisi Pablo Neruda pun dicantumkan dalam novel ini. Seperti saat perselisihan Beatriz dan ibunya mengenai Mario Jimenez.

“Aku menyukai cinta para pelaut yang mencium lalu pergi. Mereka tak pernah meninggalkan janji, mereka tak pernah kembali.”
“Aku menyukai cinta yang berkubang dalam ciuman, ranjang dan roti.”
“Aku tak menginginkannya, kasihku, tiada apapun mengikat kita, tiada apapun menyatukan kita.”
(hlm. 62-63)

Buku ini juga dilengkapi dengan biografi singkat Pablo Neruda serta pidato pemenangan Nobelnya. Semoga sang penyair megah ini selalu tercurahkan keharuman surga, tanda cinta dari para pemujanya.

“Sebagai kesimpulan, saya ingin mengatakan kepada semua orang yang berniat baik, kepada para pekerja, dan kepada para penyair bahwa seluruh masa depan sudah diekspresikan oleh Rimbaud dalam satu kalimat diatas: hanya dengan kesabaran yang membara kita akan menaklukkan kota agung yang akan memberikan cahaya, keadilan, dan martabat bagi seluruh manusia.”
“Dengan demikian puisi tidak akan dilantunkan dalam kesia-siaan.”
(hlm. 119)

P.s : Terimakasih Kak Aan, telah merekomendasikan buku ini untuk di baca.

Share This Article


Tidak ada komentar: