A CONFESSION


Apa saya lupa memberitahumu? Atau apa saya harus memberitahumu? Tidakkah kau perhatikan?

1. Warna favoritku, yang kau tahu setelah dua tahun sering bercengkrama denganku. Iya, hijau. Juga  merah.

2. Aku berani bertaruh, kau tidak pernah tahu soal makanan kesukaanku. Asal tahu saja, aku tidak suka makanan manis. Sepertinya teman-teman kantorku lebih tahu itu. Aku membenci  kecap. Bahkan kopi atau teh yang manis. Kopi adalah alasan bahwa hitam dan pahit itu termasuk kebahagiaan. Dulu, waktu kecil aku suka gado-gado. Sekarang pun, tapi benci pecel yang terlalu manis. Aku masih bisa mengecap rasa gado-gado kesukaanku waktu kecil. Sulit menemukan rasa yang sama sekarang ini. Aku juga suka sate, tapi tanpa bumbu. Sudah berkali-kali aku tekankan, aku tidak suka hal yang berlebihan. Mungkin karena itu aku bertahan denganmu. Cinta yang timbul tenggelam, tidak berlebihan. Sesederhana sebaris pesanmu di pagi hari, cukup.

3. Hmm.. belakangan aku perhatikan tulisan black flag di statusmu, juga di baju barumu. Dulu aku sering mendengarkan lagunya. Ya, meskipun satu saja, “Rise Above”. Haha. Aku ingat, aku pernah memberitahumu soal itu dan kau berkata remeh,”coba nyanyikan kalau memang suka”. Entah apa maksudmu, saya tidak pernah ragu soal selera musik saya sendiri. Semua orang punya selera masing-masing, bukannya ikut-ikutan. Kemudian, baru beberapa bulan lalu saya menceritakan bagaimana sejak kecil saya menyukai musik. Astaga, entah apa yang kita bicarakan selama 3 tahun. Aku yakin, dulu aku senang bersamamu membicarakan persoalan musik. Lantas, aku baru sadar, aku tak pernah bercerita banyak dan kau tak pernah ingin tahu. Sejak SMA, aku memang selalu belajar menyesuaikan diri dengan orang lain dan kesukaannya. Setiap kali kita dipanggil bernyanyi bersama, aku sedih. Ternyata kita tidak pernah seakrab itu, tidak pernah bernyanyi bersama di waktu-waktu kosong. Padahal semua orang tahu kita penggemar musik, kau bahkan pemain musik, aku cuma amatiran, haha. Semua orang juga yakin, kita punya lagu kesukaan bersama dan sering menghabiskan waktu bersama musik. Siapa pun yang membaca ini, saya tekankan kami tidak pernah seperti yang mereka pikir. Kami hanya membicarakan musik yang sedang kau dengarkan, sedang kau suka, sedang kau nyanyikan atau kau mainkan. Bukan lagu-lagu kesukaanku.  Sekarang aku ingin bercerita, aku suka WSATCC atau musik swing jazz tapi kurang referensi. Sejak kecil, setiap hari Minggu aku harus rela menonton MTV dibanding kartun favorit anak-anak jamanku. Kakak-kakakku memang terlalu mendominasi, terlalu malah dibandingkan orangtuaku. Aku cuma bisa nonton Detective Conan yang dikemudian hari mempengaruhiku menggemari cerita detektif. Juga nonton Ninja Boy, saya suka tertawa dan bercanda. Kau tidak tahu itu, kan? Tolong jangan tanya serial dragon ball, aku lupa dan jarang menontonnya. Lalu aku juga menggemari The Corrs, Dewa 19, Tatu, M2M dan lagu-lagu mainstream yang sering dinyayikan remaja perempuan. FYI, aku bukan fanatik Westlife seperti kebanyakan teman-teman perempuanku tapi saya cukup hafal beberapa lagunya. Aku tidak suka mengumpulkan poster Westlife di kamarku atau di binderku. Haha. Waktu SMP, saya juga penggemar LINKIN PARK. Astaga, sejak bertahun-tahun yang lalu aku selalu teliti mendengarkan permainan dj Mr. Han di lagu-lagu mereka, bukannya suara Chester. Beranjak SMA, referensi laguku mulai banyak. Saya penggemar sealbum System of A Down, entah kenapa aku selalu malu mengakui hal ini. Aku tidak pernah menceritakannya pada siapapun. Seorang temanku juga membuatku fanatik dengan Blink182, mungkin karena itu saya juga suka Angel of Airwaves. Saya juga penggemar lagu-lagu Jepang tapi tidak pernah ingat lagu Jepang mana yang dulu sering kunyanyikan. Mamaku tahu pasti akan kegemaran anak-anaknya pada musik. Awalnya, aku dibelikan walkman berwarna biru merek Sony yang kubawa kemanapun. Dulu, saya juga sangat rajin mendengarkan radio. SMA, Mamak pun membelikan mp3 player yang hanya muat beberapa belas lagu. Untung saja sekolahku cukup maju, saya jadi rajin online dan men-download banyak sekali lirik lagu. Lalu meminta tolong pada kakakku agar di-print. Kakakku bahkan memberikan ordner untuk koleksi lirik laguku. Thanks to you, sis! Saat kuliah, aku sering sekali mendengarkan lagu-lagu heavy metal karena pacar kakak. Dia rajin belajar main gitar dengan andalannya si Joe Satriani atau band Metallica. Aku bahkan punya film dokumenter tentang musik metal di komputerku, Global Metal - since the era of BLACK SABBATH. Tapi ya gitu deh, susah hapal lagu metal. Paling cuma dengar nu metal or rapcore seperti Linkin Park atau Limb Bizkit. Haha. Aku juga dengar heavy metal tapi tidak juga, seperti Metallica or Deep Purple and Led Zeppelin. Sampai sekarang sebenarnya masih sulit membedakan jenis musik metal, semoga tidak salah, I tried my best! Waktu kuliah, I explore many songs in my life from mainstream to underground and alternatives. Most of them are mainstreams. Hehe. Mungkin kau juga tidak tahu aku suka L’arc en Ciel dan AKG. Aku suka macam-macamlah, everybody can talk about music with me. Meskipun saya tidak terlalu hapal musik indie lokal. Terlalu banyak genre musik  dan semua orang punya genre masing-masing. Tidak ada orang yang bisa men-judge secara pasti tentang bagus tidaknya selera musik seseorang. Kadang mereka hanya terlalu banyak diperdengarkan musik yang kurang bagus di ranah publik. Namanya juga “mainstream”. Kasihan.

4. Kak, kau tahu soal kebiasaanku ngopi? Tidak L. Kau tahu tentang sensitifnya teman-temanku di grup? Tahu tentang kegemaranku menggambar? Tahu tentang kebiasaanku ke pasar bersama teman-teman katakerja? Tahu tentang mengerikannya orang-orang di kantorku karena cinta, harta dan tahta? Tahu tentang cerita lucu soal sahabat-sahabat kesayanganku? Tahu tentang klub buku dan Ammacaki? Tahu tentang kebiasaanku yang jahil? Tahu tentang aku yang senang tertawa? Tahu kalau candaanmu garing buatku dan aku tertawa agar kau senang? Tahu buku apa yang sedang kubaca? Tahu tentang pola tidurku setiap hari? Tahu kalau aku sering rindu setengah mati? Tahu kalau aku hampir lupa rasanya rindu karena entah apa yang kurindukan? Tahu isi blogku? Tahu twitterku? Tahu saya foto dimana? Kau bahkan tidak peduli foto liburanku. Haha. Tahu kalau aku sedang sedih kalau menelponmu?

Ya ampun, aku tahu kau suka musik. Kau sering bercerita tentang-tentang lagu-lagu yang kau dengar dan mainkan. Aku tahu kuku-kukumu yang sering kotor padahal kau seorang pianis. Aku tahu cerita tentang teman-temanmu, aku berteman bahkan hampir sebagian dengan mereka di social media. Aku tahu cerita tentang supirmu yang selalu kau tertawakan. Aku tahu tentang kekesalanmu pada kegiatan-kegiatan yang kau ikuti. Kau selalu bertanya padaku. Tak pernahkah kau sadari, kau selalu bertanya dan bercerita apapun padaku. Bahkan kau bertanya berkali-kali seperti biasa, aku rela menjawabnya dengan sabar. Aku tahu makanan kesukaanmu, Lasagna. Kau juga suka sekali menggunakan baju hitam. Aku tahu kebiasaanmu yang aneh soal telinga dan kunci motor, cara makanmu yang berantakan, rambut putihmu yang keterlaluan, mandi yang kadang sekali untuk beberapa hari. Aku kadang hanya tahu saja apa yang kau lakukan saat terlambat atau lagu apa yang baru saja kau putar. Hanya tahu saja, entah. Aku tahu yang membuatmu terlambat, nonton atau main komputer atau ngobrol berkepanjangan. Benar, kan? Ah capek menyebutkan semuanya. Aku juga sadar kalau kau cukup banyak tahu tentang diriku tapi tidak sedalam yang kau kira.

5. Apakah sebenarnya aku ada di rencana masa depanmu? Kau tahu, aku ingin sekali bercerita tentang mimpiku sejak kecil. Malu! Mungkin keseringan membaca dan nonton serial detektif. Iya, serial Conan lah, QED, Kindaichi, Agatha Christie, CSI, Hawaii Five O, NCSI, Law & Order dan lain-lain. Aku ingin menjadi agen rahasia yang memecahkan kasus. HAHAHA. Sewaktu SMA, sempat terbersit, apa mungkin kalau masuk kedokteran bisa sekolah kriminologi atau tukang autopsi. Kemudian aku merasa, I really cant be a doctor. I cant! Haha. Kau saja sering salah diagnosa tentang diriku. Huh! Lalu saat kuliah, aku menemukan mimpiku lagi, bisakah aku mendaftar di Badan Intelijen Negara? Namun, selalu kuurungkan niatku mendaftar. Sampai suatu waktu, seorang teman bercerita bahwa dia sempat mendaftar kesitu. Wow Keren! Sayangnya, dia tidak lolos. Someday, aku harus mendaftar kesana.
Kau pikir, aku tidak punya mimpi sendiri tatkala ku tanyakan tentang dirimu dan mimpimu. Bukannya ingin mengikutimu, aku hanya ingin merencanakan. Apa salahnya berencana? Aku ingin menargetkan waktuku tentang mimpi-mimpiku dan rencana denganmu itu ada didalamnya. Mengerti? Tidak? Jadi, aku ingin mencocokkan waktuku menyelesaikan mimpiku dan waktumu menyelesaikan mimpimu. Kau tahu, bertemu di ujung jalan.  And I want you to be with me whenever I fall from my dream. But I cant even find u now.
Tapi, masalahnya, kau bahkan tidak punya rencana untuk hidupmu sendiri. Kau memang tipikal anak yang manja, terbiasa diurusi oleh Tante dan Ibumu. Terkadang, kau bahkan tidak becus mengerjakan pekerjaan lelaki pada umumnya.

Kau rajin menelepon keluargaku, kau datang kalau mereka mengunjungiku, kau menemaniku membelikan semua pesanan mereka. Kau juga datang ke Sorowako. Kau rajin membelikanku barang, meskipun dengan wajah kusutmu yang tidak ikhlas. Kau tahu, aku benci wajahmu yang tetiba perhitungan. Padahal aku tidak pernah meminta dibelikan. Kau tetiba saja menawarkan, lalu berpikir. Anak yang aneh! Tapi kau tetap membelinya. Terimakasih! Kau selalu tahu kalau aku marah atau kesal, kau datang membawa buku atau coklat. Belakangan ini, kau tidak pernah lagi memberiku coklat. Sedihnya.
Aku tidak pernah melarangmu bepergian dengan siapapun dan kemanapun, selama hal itu masih positif. Aku bahkan menelpon tengah malam mencari tahu kabarmu karena keluargamu meneleponku. Jadi, jangan terlalu merasa! Haha. Sudah pernah kukatakan, tidak apa-apa kau terlambat asalkan kita tidak dalam keadaan terburu-buru. Ah, kadang aku benci dan menangis kalau kau membuatku menunggu sampai tiga jam. Membuang-buang waktuku. Kau juga jarang sekali membanggakanku, terkadang hanya senyum remeh kalau aku menceritakan sesuatu tentang diriku. Kau juga tidak menyimpan fotoku di telepon selularmu, saya juga sih. Hehe. I treat u the way u treat me, honestly. Sekarang ini, aku tak bisa mengingat kenapa aku mencintaimu. Apa karena aku hanya terbiasa atau karena takut sendirian. Tapi, sama saja! Aku tetap sendiri kok.
Aku bahkan jarang sekali meminta bantuanmu, jarang memintamu mengantarku kemana-mana, jarang bertemu denganmu. Bisakah sekali saja kau tidak terlambat kalau kita berjumpa? Bisakah kau bersemangat sedikit tiap ingin bertemu denganku? Bisakah aku merasa spesial?
Kau selalu saja memintaku menontonmu didepan panggung, tapi entah mengapa kau tak pernah datang melihatku di panggung.

Kita seiman, itu yang paling penting buatku. Kau mungkin paket yang komplit. Tapi aku bermimpi bersama dengan orang biasa saja tapi melengkapiku. Sederhana tapi tahu cara menghargai orang lain serta pekerja keras. Keluarga kecil yang bahagia, sesederhana itu.

Sebenarnya ini adalah pengakuan tentang aku yang terlalu mencintai diri sendiri. Sejak dulu, aku punya pemahaman kalau mencintai bukanlah hasrat ingin mendominasi atau memiliki. Selalu saja cukup dengan kau mencintaiku apapun caramu. Tapi, kali ini aku ingin sekali merasakan perasaan yang tulus, perasaan-perasaan yang mengasihiku tanpa beban.  Perasaan terlindungi dan diperhatikan secara mendalam. Tidak perlu setiap waktu. Aku tidak pernah suka yang berlebihan. Aku ingin ada seseorang yang mengetahui tentang diriku, hal-hal kecil tentangku, mimpi-mimpiku, tempatku berbagi sampai aku tak perlu mengetikkan tulisan ini.


Aku sedang egois, mencintai diriku sendiri dengan cara mengharapkan orang lain yang bisa mencintaiku sepenuhnya. Kau yang baik dan aku yang egois.

Share this:

ABOUT THE AUTHOR

Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible

1 komentar: